Sudahkah Aku Biasakan Kebenaran, ataukah Masih Kubenarkan Kebiasaan?
(Sebuah Refleksi dari Refleksi)
Kamis, 21 April 2011. Hari ini hari Kartini. Aku lalui hari ini dengan langkah Kartini yang terlahir pada abad ini. Apakah aku sudah menjadi Kartini seperti yang terbersit dalam harapan Ibu Kartini? Mulai pukul 13.00 s.d. 15.30 saat kudengarkan paparan refleksi pengawas pembina tempatku bertugas aku refleksi diriku, "Sudahkah aku menjadi Kartini yang mengemban amanah Ibu Kartini?"
Kanto, M.Pd., adalah pengawas pembina tempatku bertugas. Aku sempatkan waktu untuk menyimak paparan hasil refleksi dari kegiatan yang telah dilakukannya. Selasa, 12 April 2011 beliau beserta dua pengawas rekannya datang ke sekolahku melihat perangkat pembelajaran yang telah disusun oleh aku juga rekan-rekanku.
Kuluangku waktuku bukan karena Pak Kanto berlatar belakang Pengawas Bahasa Indonesia. Bukan pula karena beliau asli Purbalingga tempat Mbah Kakungku dilahirkan. Tapi, ada harapan besar dalam langkahku, “Hari ini harus kudapatkan kado spesial untuk kehidupanku!”
Subhanallah…Allah Maha mengatur sebaik-baik kejadian. Dia yang Maha pembolak-balik hati. Dia getarkan hidayah untukku dengan membuka tabir kesadaranku. Paparan Pak Kanto mengetuk pintu ayunan langkah dalam hidupku.
“Kita harus membiasakan kebenaran, jangan membenarkan kebiasaan.” Kalimat yang begitu bermakna adalah awal tulisanku saat kudengarkan paparan Pak Kanto. Selama ini demi tercapainya segala yang diinginkan aku sering membenarkan kebiasaan. Aku belum sempurna membiasakan kebenaran. Dampaknya, aku selalu memilih banyak alasan.
“Jika ingin sukses, jangan banyak alasan. Anda ingin sukses? Lupakan alasan!” kurenungkan kalimat itu dengan membuka rekaman perilakuku.
Sampai saat ini aku belum menjadi guru yang professional, sebab indikator-indikator sang professional belum sempurna mewarnai kanvas lukisan hidupku. Ibu Kartini, cita-cita muliamu belum sempurna kujalankan!
Anak adalah titipan Tuhan. Murid-murid adalah amanah tugas yang aku emban. Hingga kini masih sering kutinggalkan. Aku harus siap ketika menjadi “wanita panggilan”. Mana yang lebih aku dahulukan? Panggilankah? Anak-anak di rumah? Murid-murid di sekolah?
Ibu Kartini, aku terkadang lebih memilih melayani panggilan seminar, workshop, kuliah, atau yang lainnya. Aku berharap ini demi peningkatan keprofesionalanku sebagai penerus perjuanganmu. Namun, terkadang rasa berdosa menghantuiku. Peningkatan kualitas pembelajaran kunodai dengan meninggalkan pembelajaran.
Ibu Kartini, aku obati rasa bersalahku dengan tak jemu kukatakan maaf pada anak dan murid-muridku. Kucoba luangkan waktu lebih banyak kala aku diminta hadir kapan pun dalam kehidupannya. Aku coba puaskan mereka sebagai pelanggan setiaku.
“Penanaman nilai akan berhasil bila kita mengikuti cara Rasulullah berdakwah melalui peneladanan, pemotivasian, dan pembiasaan,” uraian Pak Pengawas mendongkrak motivasiku.
Ibu Kartini, walau hanya, walau baru, walau tak seberapa, kuawali kembali hari ini dengan langkah guru shaleh yang paling kaya. Walau harus kueja dari “alif” hingga “ya” , kumulai hari ini dengan nyanyian istri shalihah yang paling setia. Walau harus kuhitung detik dari terbit fajar hingga kembali terbit fajar, kulukiskan ibu yang paling mulia dan bijaksana.
Ibu Kartini, semoga setiap harapan akan berbuah kenyataan, amin!
Cisaat, 21 April 2011