Kamis, 21 Juni 2018

Dalam Asaku

Asa selalu memanggilku untuk mengurai berbagai kisah,
media ini terbukti aman untuk menyimpan semua yang ingin kuungkap,
masa indah di Yogyakarta tahun 2008 adalah anugerah yang Allah berikan tiada tara,
di sinilah aku mulai membelalakkan mata karena sahabat-sahabatku kreatif berkarya,
sementara...jemari dan mataku hanya cukup dengan "terpesona" . Aku semakin sadar tanpa pertolongan-Nya aku bukan siapa-siapa, aku tak punya apa-apa...

Sukabumi, 22 Juni 2018

Asaku

Lembaran baru kembali dibuka, bismillahi tawakkaltu'alallah...
semoga media ini menjadi jalan agar semua asa menjadi nyata,
mengetuk rahmat-Nya agar hidup selalu mulia di hadapan-Nya dan di hadapan makhluk-Nya, aamiin...

Sukabumi, 22 Juni 2018

Jumat, 26 Juni 2015

Episode Menggapai Asa

ketika senja berlalu,
waktu bergulir dengan aneka cerita bahagia dan pilu,
asa yang selalu diburu,
semoga semakin membuatku 
terpesona dengan kasih dan sayang-Mu

Selasa, 28 Agustus 2012

Baju Baru, Alhamdulillah...

Ketika tubuhku penuh bulu dosa yang menjijikan dan membuat gatal saudara-sadaraku, kumasuki kepompong Ramadhan. Kusemayamkan diriku dengan pijatan istighfar. Satu bulan hujan taubat menyirami tubuhku. Aku kebanjiran harapan yang kutumpahkan dalam segala asa.

Mentari Syawal memanggil tubuhku keluar. Kuharap tubuhku bermetamorfosa menjadi kupu-kupu bersayap syukur, beterbangan di alam rahmatan lil'alamin, menghisap kasih sayang yang kucium di atas bunga-bunga harapan yang berbuah kenyataan, amin...

Selasa, 26 April 2011

Refleksi

Sudahkah Aku Biasakan Kebenaran, ataukah Masih Kubenarkan Kebiasaan?
(Sebuah Refleksi dari Refleksi)

Kamis, 21 April 2011. Hari ini hari Kartini. Aku lalui hari ini dengan langkah Kartini yang terlahir pada abad ini. Apakah aku sudah menjadi Kartini seperti yang terbersit dalam harapan Ibu Kartini? Mulai pukul 13.00 s.d. 15.30 saat kudengarkan paparan refleksi pengawas pembina tempatku bertugas aku refleksi diriku, "Sudahkah aku menjadi Kartini yang mengemban amanah Ibu Kartini?"
Kanto, M.Pd., adalah pengawas pembina tempatku bertugas. Aku sempatkan waktu untuk menyimak paparan hasil refleksi dari kegiatan yang telah dilakukannya. Selasa, 12 April 2011 beliau beserta dua pengawas rekannya datang ke sekolahku melihat perangkat pembelajaran yang telah disusun oleh aku juga rekan-rekanku.
Kuluangku waktuku bukan karena Pak Kanto berlatar belakang Pengawas Bahasa Indonesia. Bukan pula karena beliau asli Purbalingga tempat Mbah Kakungku dilahirkan. Tapi, ada harapan besar dalam langkahku, “Hari ini harus kudapatkan kado spesial untuk kehidupanku!”
Subhanallah…Allah Maha mengatur sebaik-baik kejadian. Dia yang Maha pembolak-balik hati. Dia getarkan hidayah untukku dengan membuka tabir kesadaranku. Paparan Pak Kanto mengetuk pintu ayunan langkah dalam hidupku.
“Kita harus membiasakan kebenaran, jangan membenarkan kebiasaan.” Kalimat yang begitu bermakna adalah awal tulisanku saat kudengarkan paparan Pak Kanto. Selama ini demi tercapainya segala yang diinginkan aku sering membenarkan kebiasaan. Aku belum sempurna membiasakan kebenaran. Dampaknya, aku selalu memilih banyak alasan.
“Jika ingin sukses, jangan banyak alasan. Anda ingin sukses? Lupakan alasan!” kurenungkan kalimat itu dengan membuka rekaman perilakuku.
Sampai saat ini aku belum menjadi guru yang professional, sebab indikator-indikator sang professional belum sempurna mewarnai kanvas lukisan hidupku. Ibu Kartini, cita-cita muliamu belum sempurna kujalankan!
Anak adalah titipan Tuhan. Murid-murid adalah amanah tugas yang aku emban. Hingga kini masih sering kutinggalkan. Aku harus siap ketika menjadi “wanita panggilan”. Mana yang lebih aku dahulukan? Panggilankah? Anak-anak di rumah? Murid-murid di sekolah?
Ibu Kartini, aku terkadang lebih memilih melayani panggilan seminar, workshop, kuliah, atau yang lainnya. Aku berharap ini demi peningkatan keprofesionalanku sebagai penerus perjuanganmu. Namun, terkadang rasa berdosa menghantuiku. Peningkatan kualitas pembelajaran kunodai dengan meninggalkan pembelajaran.
Ibu Kartini, aku obati rasa bersalahku dengan tak jemu kukatakan maaf pada anak dan murid-muridku. Kucoba luangkan waktu lebih banyak kala aku diminta hadir kapan pun dalam kehidupannya. Aku coba puaskan mereka sebagai pelanggan setiaku.
“Penanaman nilai akan berhasil bila kita mengikuti cara Rasulullah berdakwah melalui peneladanan, pemotivasian, dan pembiasaan,” uraian Pak Pengawas mendongkrak motivasiku.
Ibu Kartini, walau hanya, walau baru, walau tak seberapa, kuawali kembali hari ini dengan langkah guru shaleh yang paling kaya. Walau harus kueja dari “alif” hingga “ya” , kumulai hari ini dengan nyanyian istri shalihah yang paling setia. Walau harus kuhitung detik dari terbit fajar hingga kembali terbit fajar, kulukiskan ibu yang paling mulia dan bijaksana.
Ibu Kartini, semoga setiap harapan akan berbuah kenyataan, amin!

Cisaat, 21 April 2011

Selasa, 03 Februari 2009

Ketika Asa Jadi Nyata

SEBANYAK 40 GURU TERIMA SERTIFIKAT PENDIDIK MELALUI JALUR PENDIDIKAN
[ Website - 29 Jan 2009]


Sebanyak 40 orang guru menerima sertifikat pendidik. Sertifikasi guru melalui jalur pendidikan ditempuh 2 semester. Beberapa persyaratan peserta sertifikasi guru diantaranya: guru SD dan SMP berprestasi dan belum berusia 40 tahun. Demikian dijelaskan ketua pelaksana sertifikasi guru rayon 11 Dr. Sunaryo Sunarto pada upacara Penerimaan Sertifikat Pendidik bagi Guru dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan, di ruang sidang UNY, Selasa (27/1).Dikatakan, berdasarkan Kemendiknas No.: 122/P/2007, UNY mendapat amanah untuk menyelenggarakan sertifikasi guru melalui jalur pendidikan untuk guru Bahasa Indonesia (BI) SMP diikuti oleh 21 guru dan 19 guru Bimbingan Konseling (BK) SMP. Peserta berasal 6 propinsi, yaitu DIY, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Nusa Tenggara Barat.Sertifikasi guru melalui jalur pendidikan ditempuh selama dua semester, untuk jurusan Bahasa Indonesia peserta harus menempuh 12 matakuliah (32 SKS), sedang untuk jurusan Bimbingan Konseling 12 matakuliah (36 SKS). Diakhir pendidikan dilakukan uji kompetensi, yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 Nopember 2008. Berdasarkan hasil uji kompetensi ke 40 peserta sertifikasi guru melalui jalur pendidikan dinyatakan lulus.”Indeks prestasi rata-rata untuk guru Bahasa Indonesia 3,56 dan Bimbingan Konseling 3,66. Untuk Bahasa Indonesia berhasil meraih IP tertinggi yaitu Ratna Muda Ningrum,S.Pd. dari SMPN 1 Cisaat Sukabumi Jabar dengan IP 3,89. Sedangkan Suwarta.SPd. dari SMPN. 3 Jumapolo Karanganyar Jateng dengan IP 3,85 menjadi yang terbaik untuk Bimbingan dan Konseling,” terangnya.Sementara itu Penjabat Rektor UNY, Dr. Rochmat Wahab mengatakan, perlu dimaklumi bersama, bahwa posisi profesi guru dewasa ini sungguh bergeser dari posisi termarginalkan menjadi posisi yang terhormat dan bermartabat. Untuk menandai posisi terhormat dan bermartabat, setiap guru secara berangsur-angsur harus melalui proses sertifikasi. Ada dua jalan proses sertifikasi guru dalam jabatan, yaitu melalui penilian portofolio dan jalur pendidikan. Atas dasar itulah, maka suatu keberuntungan bagi Ibu/Bapak sekalian yang telah memperoleh kesempatan untuk mengikuti program sertifikasi guru melalui pendidikan dalam jabatan. Dikatakan Rochmat, sebagai lulusan pendidikan dalam jabatan tentu diyakini memiliki kesan yang berbeda dibandingkan dengan penilaian portofolio, demikian juga PLPG yang hanya membutuhkan waktu 90 jam kegiatan. Selama satu semester merupakan jumlah waktu standar untuk suatu program pendidikan profesi. Dengan demikian memperoleh tambahan pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang cukup berarti. Untuk membuktikan diri sebagai konselor atau guru yang lebih profesional, maka tidak ada pesan yang paling penting, kecuali himbauan kepada semuanya untuk bisa kembali ke tempat tugas masing-masing dengan penampilan kerja yang lebih produktif, disiplin, dan bertanggung jawab atas profesinya.“Setidak-tidaknya ada 4 indikator penting sebagai guru profesional, yaitu Conscience, Competent, Creative, and Care. Conscience berarti setiap guru harus bernurani yang setiap langkah hidupnya dalam tugas profesionalnya selalu bersandar pada nilai agama dan moral, sehingga tetap berada jalan yang lurus dan mampu mengantar peserta didiknya menjadi inidvidu yang bertaqwa. Competent berarti setiap guru profesional seharusnya mampu menunjukkan empat kompetensi utama, kompetensi profesional, pedagogik, personal, dan sosial. Creative berarti setiap guru profesional harus mampu berkepribadian, berpikir, berperilaku dan berkarya secara kreatif, sehingga dapat menampilkan hal-hal yang baru dan bermanfaat bagi orang lain, terutama bagi peserta didik. Care berarti setiap guru profesional seharusnya memiliki kepedulian kepada semua peserta didik, sehingga semuanya merasa terlayani sesuai dengan kebutuhannya,” tuturnya.Jika ibu dan bapak semua mampu menunjukkan 4 indikator terasebut, insya Allah saya yakin bahwa semuanya bisa menjadi model bagi guru lainnya. Usahakan untuk dapat menjaga martabatnya, bahwa peserta Program Sertifikasi Guru dalam Jabatan melalui jalur Pendidikan yang mendapatkan layanan aktivitas lebih banyak, mampu berperilaku dan berkarya secara lebih baik dan profesional daripada mereka yang melalui program penilaian portofolio, bahkan PLPG yang 90 jam itu. Memang kelulusan untuk tahap ini memang penting, namun yang lebih penting lagi ilmu dan keterampilan yang diperoleh terus dipelihara dan dikembangkan, sehingga bermanfaat bagi peserta didik. Jangan sampai bahwa proses pendidikan telah usai, maka berhentilah sampai di situ. Tidak ada upaya pengembangan lebih lanjut.Ditambahkan Rochmat, ada wacana bahwa lulusan program sertifikasi guru dalam jabatan melalui jalur pendidikan, khususnya untuk lulusan program studi Bimbingan dan Konseling diberikan gelar Kons di belakang nama yang bersangkutan atau di belakang gelar yang ada di belakang namanya. Perlu dimaklumi bahwa UNY berpegang pada aturan bahwa setiap pemberian gelar harus didasarkan atas Peraturan Universitas atau Peraturan Ditjen Dikti. Mengingat belum ada aturan pemberian gelar yang terkait dengan program sertifikasi guru dalam jabatan melalui jalur pendidikan, maka dengan berat hati UNY untuk sementara ini tidak bisa memberi gelar tersebut. (wit)

Rabu, 14 Januari 2009

Hati-Hati, Uang Palsu Beredar di Sukabumi!

Pagi itu, suasana sekolah tampak ramai. Hampir semua karyawan mengomentari hal yang sama, "Uang palsu!" Ya...musibah melanda sekolah, sejumlah uang palsu ditemukan dalam tumpukan uang yang diterima dari sebuah bank pemerintah di Sukabumi.

Berita ini adalah peringatan untuk kita agar memeriksa uang yang diterima dari teller sebelum meninggalkan bank. Jangan mudah percaya bahwa status sebuah bank adalah jaminan untuk uang yang kita terima. Waspadalah! Waspadalah! Ya...pegawai bank juga manusia!

Semoga kejujuran bukan hanya ramai digelorakan, tetapi kejujuran sibuk diaplikasikan oleh setiap insan dalam setiap jabatan, dalam setiap kesempatan!