Siswa SMP termasuk usia remaja yang mengalami perkembangan emosi cinta. Secara fisik ditandai dengan kelenjar kelamin masak, sehingga mempengaruhi timbulnya perhatian terhadap lawan jenis.
Tahap-tahap perkembangan emosi cinta remaja:
Crush, akhir masa anak-anak atau awal remaja, mulai memuja orang lain yang lebih tua dari jenis seks yang sama, cinta bersifat pemujaan.
Hero Worshipping, cinta bersifat pemujaan ditujukan kepada orang lain yang lebih tua, tetapi dari jenis kelamin yang berbeda dan umumnya jarak jauh.
Boy Crazy & Girl Crazy, rasa cinta ditujukan pada teman sebaya, tidak hanya satu orang tetapi pada semua remaja dan lawan jenisnya.
Puppy love (cinta monyet), cinta remaja tertuju pada satu orang saja tapi sifatnya masih berpindah-pindah.
Romantic love, remaja menemukan cinta yang tepat, sifat sudah lebih stabil, sering berakhir dengan perkawinan.
Tahap-tahap perkembangan emosi cinta remaja:
Crush, akhir masa anak-anak atau awal remaja, mulai memuja orang lain yang lebih tua dari jenis seks yang sama, cinta bersifat pemujaan.
Hero Worshipping, cinta bersifat pemujaan ditujukan kepada orang lain yang lebih tua, tetapi dari jenis kelamin yang berbeda dan umumnya jarak jauh.
Boy Crazy & Girl Crazy, rasa cinta ditujukan pada teman sebaya, tidak hanya satu orang tetapi pada semua remaja dan lawan jenisnya.
Puppy love (cinta monyet), cinta remaja tertuju pada satu orang saja tapi sifatnya masih berpindah-pindah.
Romantic love, remaja menemukan cinta yang tepat, sifat sudah lebih stabil, sering berakhir dengan perkawinan.
Sejalan dengan perkembangan emosinya, dalam pembelajaran guru harus berperan sebagai pendidik, fasilitator, dan konselor. Sebagai seorang pendidik guru harus mengarahkan peserta didik agar menjaga perilakunya selalu sesuai dengan norma.
Guru berperan sebagai fasilitator. Artinya, dalam pembelajaran guru memfasilitasi, membantu, dan melayani peserta didik untuk mengikuti pembelajaran sesuai dengan perkembangannya.
Perkembangan emosi remaja menuntut perhatian yang cukup. Guru harus berperan sebagai konselor. Posisinya, guru harus menjadi sahabat atau orang tua yang bisa dijadikan tempat mencurahkan perasaan siswa. Dengan demikian, siswa diharapkan dapat menjalani perkembangan emosinya dengan terarah dan terbimbing.
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, perkembangan emosi remaja bisa dijadikan masukan yang positif untuk membantu siswa mencapai kompetensi yang diinginkan. Dengan pendekatan contekstual teaching and learning (CTL), pembimbingan peserta didik dapat diimplikasikasin pada semua kompetensi dasar. Contohnya sebagai berikut:
1) Kompetensi dasar: Menulis Puisi
Siswa menuliskan semua perasaannya sebagai ide untuk menulis puisi. Hasil karyanya dipublikasikan. Hal ini mendorong siswa untuk menambah kompetensinya menulis puisi, menyalurkan perasaan yang membelenggu dirinya, juga bisa menjadi alat untuk menyampaikan rasa cinta pada lawan jenisnya.
2) Kompetensi dasar: Membaca Novel Remaja
Siswa membaca novel remaja, lalu mengambil nilai-nilai yang bisa ditiru dan nilai-nilai yang tidak boleh ditiru dalam kehidupannya. Pembelajaran ini secara konstruktif membentuk siswa untuk berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku.
3) Kompetensi dasar: Menulis Buku Harian
Siswa menuliskan perasaannya sesuai dengan perkembangan emosi yang sedang dijalaninya dalam buku harian. Guru bisa mengaplikasikan layanan individu untuk siswa yang memiliki permasalahan dalam perkembangan emosinya.
Selain keterampilan berbahasa siswa lebih tergali, kejujuran siswa mengungkapkan perasaannya di buku harian sangat membantu guru untuk lebih mengetahui perkembangan emosi siswa secara individu.
Simpulannya, pada perkembangan emosi remaja, guru tidak mengekang siswa. Siswa diarahkan dan dibimbing secara individual maupun klasikal untuk melakukan tugas perkembangannya dengan dilandasi pendidikan untuk selalu mengikuti norma. Guru harus menjadi sahabat atau orang tua yang membuat siswa nyaman untuk berbagi cerita atau mengungkapkan permasalahannya. Dengan demikian, permasalahan-permasalahan yang timbul dalam masa perkembangan remaja dapat segera diatasi. Bagi guru Bahasa Indonesia perkembangan emosi remaja bisa menjadi media untuk mengonstruksi siswa trampil berbahasa baik lisan maupun tulisan.
(Ratna Muda Ningrum)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar