Senin, 24 November 2008

Nyanyian di Pagi Hari



Penyedap Rasa
(Ermuda Ningrum)

Pujian yang tertabur dalam masakanku,
membawa aroma yang lezat,
hingga hargaku tak semurah nasi kucing.

Gumam yang tepercik dalam masakanku,
mengundang selera,
hingga warnaku tak sepucat tempe penyet.

Keceriaan yang mengocek masakanku,
meratakan rasa,
hingga hidanganku diburu setiap manusia.

Amboi...
Aroma yang lezat,
Warna yang mengundang selera,
Rasa yang diburu manusia,
Luar Biasa!


Mei 2008





Tak Banyak yang Kupunya
(Ermuda Ningrum)

Jerit cita-citamu selalu memanggilku,
Rontaan keluh kesahmu selalu menarik tanganku.


Tak banyak yang kupunya,
Tenanglah!
Aku selalu hadir di setiap ruang hatimu.

Kalau aku lilin,
Jangan biarkan apiku padam!
Lanjutkan apiku dengan obormu!

Terangi sudut-sudut ketakutanmu!
Tapi, ingatlah!
Dunia bisa terbakar karena ulahmu,

Tak banyak yang kupunya
Tenanglah!
Aku selalu hadir di setiap ruang hatimu.


Mei 2008



Melodi dalam Kesunyian

(Ermudaningrum)

Illahi,
Kutegakkan tubuh dalam alif-Mu,
Namun:
Ampuni, andai wajahku tak sempurna menatap-Mu,
Ampuni, andai jumlah rakaat saja tak kutahu,
Ampuni, andai hanya skenario aktivitas yang kuramu!

Illahi,
Kurukukkan tubuh dalam lam-Mu,
Namun:
Ampuni, andai pujianku,
tak sebanding yang kumau!
Ampuni, andai rayuanku,
Tak seindah pinta dan asa yang kucumbu!

Illahi,
Kusujudkan tubuh ini dalam mim-Mu,
Namun:
Ampuni, andai kepasrahan ini,
Tak diiringi kesungguhan hati!
Ampuni, andai kerendahan ini,
Tak dibasuh keikhlasan diri!
Ampuni, andai air di pipi ini,
Tak disiram kesadaran diri!

Yogyakarta, 23 Mei 2008

Neng Cantik

(Ermudaningrum)

Neng Cantik...
Begitu kupanggil namamu!

Tangismu bisa kau ubah tawa
hanya dalam seketika.
Manjamu bisa kau ganti ceria
hanya dalam semasa.

Neng Cantik...
Kembali kupanggil namamu!

Mendung yang dikuaskan dalam awan,
tak mengubah tampilanmu yang menawan.
Badai yang disiramkan dalam lautan,
Tak menghapus senyumanmu yang menggairahkan.

Keng Cantik...
Selalu kupanggil namamu!

dalam hampa kau tenun bahagia,
dalam kelam kau rangkai gembira,
dalam pekat kau susun suka,
Dalam redup kau pintal cinta.

Yogyakarta, 23 Mei 2008


Sempurna

(Ermudaningrum)

Kurayu engkau dengan
Kata penuh kiasan
Kusapa engkau dengan
Larik penuh pilihan
Kucumbu engkau
Dengan bait penuh keindahan

Bila kata ingin kujadi makna
Tak semudah rak buku kutata
Bila larik ingin kujadi wibawa
Tak semudah roti kuolesi mentega
Bila bait ingin kujadi tahta
Tak semudah kunaiki Trans Jogja




Yogyakarta, 23 Mei 2008









Balada Asa

(Ermudaningrum)


Tatkala kautiupkan harapan
dalam ubun-ubun kehidupan
ada ketakberdayaan dalam tatapan.

Tatkala kaubisikkan keinginan
dalam kesunyian perjalanan
ada kehampaan dalam alunan.

Sayap ini masih luka
namun tiada dokter yang jaga!
Sementara angin asa kian memaksa
awan menantang di angkasa.

Luka bisa tak dirasa
Kehampaan bisa jadi nada
Ketakberdayaan bisa membuat perkasa
Tatkala sukma dibanjiri cinta.

Walau paruh ini mengaduh,
Siapa pun tak merasa aku mengeluh.
Kicauanku yang riuh,
tak membuat engkau luluh.




Andai sayap luka tak kupaksa
Andai paruh mengaduh tak kukicaukan bahagia
Aku tak kan berani arungi jagat raya
Aku tak tandingi tantangan awan di angkasa

Semoga kenyataan taklukkan asa,
Amin!

Yogyakarta, 24 Mei 2008





Berlayar di Samudra Cita

(Ermudaningrum)


Samudra yang kita arungi:
samudra biru berbadai cinta
Kapal yang kita naiki:
kapal raksasa berlayar suka

Walau petir kesengsaraan:
berteriak memecah lautan
Walau hujan kemiskinan:
deras meninggikan luapan
Kapal kita masih perkasa!

Bila Nakhoda tak waspada:
Karang di Pulau Binasa
Akan menenggelamkan kapal kita!

Bagai tiada kerja
Kita urusi nakhoda!
Dialah yang membawa kita ke Pulau Bahagia.

Bila Nakhoda tak waspada:
Karang di Pulau Binasa
Akan menenggelamkan kapal kita!

Yogyakarta, 24 Mei 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar